ALTERNATIF PELUANG DESTINASI WISATA PANTAI DI KABUPATEN KAUR




MARSULI, REFLIS

Berita24.id : Kaur (Bengkulu) — Secara nasional, pembangunan pariwisata dari waktu ke waktu semakin menguat. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019, sektor pariwisata ditetapkan sebagai sektor prioritas pembangunan nasional setelah infrastruktur, maritim, energy dan pangan.

Hal ini tentunya menunjukkan bahwa sektor pariwisata menjadi semakin penting dalam pembangunan nasional. Begitu juga halnya dengan pemerintah Provinsi Bengkulu, yang meletakkan sektor pariwisata menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021, ditegaskan bahwa dari 8 misi pembangunan daerah 2016-2021

Misi ke-4 adalah “Mewujudkan pembangunan kepariwisataan yang tangguh dan pengelolaan sumber daya alam serta lingkungan yang berkeadilan dan berkelanjutan berbasis keunggulan lokal” (Bappeda Provinsi Bengkulu, 2016).

Pariwisata menjadi semakin penting, karena selain peran yang dimilikinya, pariwisata juga merupakan suatu sektor yang tidak berbeda dengan sektor ekonomi lainnya karena dalam proses perkembangannya juga mempunyai dampak atau pengaruh di sektor sosial dan ekonomi. Antara dan Paning (1999) dalam (Dinas Pariwisata provinsi Bengkulu, 2017),

Mengemukakan bahwa pariwisata mempunyai keterkaitan ekonomi yang sangat erat dengan banyak sektor, melalui open-loop effect dan induced-effect (di samping istilah yang sudah umum dikenal sebagai trickle-down effect dan multiplier effect). Peranan pariwisata juga dapat dilihat dari kontribusinya terhadap PDRB dan penyerapan tenaga kerja, walaupun tidak ada angka pasti untuk sektor pariwisata dalam catatan statistik.

Namun, meningkatnya kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran dapat menggambarkan peranan sektor kepariwisataan tersebut. Menurut Bagyono (2005), pariwisata memainkan peranan yang penting dan strategis bagi suatu negara/daerah. Peran penting yang menarik perhatian adalah di bidang ekonomi, khususnya yang menyangkut penerimaan valuta asing, penyerapan tenaga kerja dan penciptaan lapangan usaha baru serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan.

Seluruh wilayah negara Republik Indonesia mempunyai potensi pariwisata yang sangat kaya dan beragam, baik berupa priwisata alam, budaya dan sejarah. Seperti halnya di Kabupaten Kaur, yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu, yang memiliki berbagai macam potensi pariwisata, baik wisata alam maupun wisata budaya karena Kabupaten Kaur yang terdiri dari bermacam-macam suku, adat-istiadat dan kebudayaan baik yang sudah dikembangkan, di promosikan dengan sempurna atau pun belum terjamah sekalipun. Sektor pariwisata di Kabupaten Kaur hingga saat ini relative masih kecil konstibusinya terhadap perekonomian wilayah.

Namun demikian Kabupaten ini memiliki beberapa potensi yang cukup menjanjikan di masa yang akan datang (Pemerintah Kabupaten Kaur, 2014). Potensi pariwisata di setiap daerah sudah semestinya juga mendapat perhatian oleh masing-masing pemerintah daerah untuk dikembangkan sedemikian rupa guna mendukung pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.

Sebagai salah satu sektor pembangunan yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, pariwisata dianggap sebagai suatu aset yang strategis untuk mendorong pembangunan pada wilayah-wilayah tertentu yang mempunyai potensi objek wisata (Soemardjan, 1974 dalam Aryunda, 2011).

Dalam upaya pembangunan kepariwisataan di daerah, perlu adanya dukungan dan atau intervensi dari pemerintah daerah, termasuk berupa kebijakan-kebijakan pembangunan yang berpihak pada sektor kepariwisataan tersebut. Suardana (2016), menjelaskan bahwa intervensi pemerintah terhadap pengembangan pariwisata dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa instrumen kebijakan yang dapat digunakan untuk mengontrol dan memberikan incentive dalam mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan, seperti; aturan pemanfaatan lahan, membatasi akses wisatawan terhadap daerah-daerah yang rawan terhadap kerusakan, melindungi budaya lokal, mengarahkan prilaku wisatawan yang berwawasan lingkungan, pembatasan dalam penggunaan energi, menghemat sumber alam yang langka, mengurangi polusi dan memeberikan incentive terhadap pembangunan infrastruktur yang juga bermanafaat bagi host seperti sistem transportasi, perlindungan terhadap ruang hijau kota dan national park.

Dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Kaur (RIPPDA Kaur) disebutkan bahwa Kabupaten Kaur memiliki banyak objek wisata yang cukup menarik dan potensial untuk dipasarkan. Sayang sekali, objek-objek wisata di Kabupaten Kaur belum tertata dan dikembangkan secara baik yang memiliki standar kepariwisataan. Jumlahnya pun masih belum pasti. Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa potensi objek dan daya tarik wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Kaur cukup beragam.

Hal ini menyebabkan perlu adanya suatu penataan dan pengembangan objek dan daya tarik wisata, yang meliputi seluruh aspek yang berkaitan dengan pengembangan kepariwisataan Kabupaten Kaur. Penataan dan pengembangan berbagai potensi pariwisata dengan segala fasilitas pendukungnya memerlukan upaya dan usaha dari berbagai pihak terutama instansi/ lembaga dan dunia usaha yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang pembangunan kepariwisataan, sehingga segala program dan kegiatan antar sektor tersebut dapat terpadu dan pelaksanaan kegiatan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Kaur dapat berjalan secara efisien dan efektif (Bappeda Kabupaten Kaur, 2012).

Salah satu objek wisata yang berpotensi untuk dikembangkan di Kabupaten Kaur adalah objek wisata Pantai Pengubaian Resort yang merupakan pantai yang relative indah dengan ombak yang besar untuk olah raga selancar. Pantai Pengubaian Resort mempunyai dua fungsi sebagai tempat pariwisata bahari dan olahraga selancar juga sebagai tempat tambatan perahu nelayan. Pantai Pengubaian resort ini terletak di wilayah Desa Pengubaian Kecamatan Kaur selatan, pantai Pengubaian Resurt berjarak 5 km dari Pusat Kota, 1,5 Km dari pinggir jalan dan terletak di tepi pantai perairan Samudra Hindia dengan akses yang mudah di jangkau dengan kandaraan maupun berjalan kaki.

Dinas Pariwisata Kabupaten Kaur telah membuat strategi guna pengembangan pariwisata di Kabupaten Kaur dengan menjdikan objek wisata Pantai Pengubaian Resort sebagai salah satu objek wisata yang menjadi sumber pendapatan daerah dengan beberapa pertimbangan keelokan, keasrian, kesediaan sarana dan prasarana dan aksesibelitas.

Strategi ini belum mampu memberi kemajuan yang signifikan dalam mengoptimalkan potensi yang ada dengan beberapa permasalahan yang terjadi sehingga perlu banyak pembenahan antara lain belum adanya kerjasama dengan invertor, belum melibatkan masyarakat, belum adanya aturan yang di buat oleh pengelola tempat wisata tentang ketentuan tarip membuka usaha, menikmati atraksi wisata kemudian sarana dan prasarana yang kurang lengkap seperti tidak adanya mushola, belum masuknya jaringan listrik, jalan hanya satu jalur sehingga kemungkinan terjadinya kemacetan, kebersihan masih perlu di benahi seperti toilet umum, pondok, sampah yang di tinggalkan oleh pengunjung. Kurangnya pengawasan pemerintah daerah terhadap pengelolaan kepariwisataan dalam pengembangan objek wisata Pantai Pengubaian Resort, serta sistem promosi objek wisata Pantai Pengubaian Resort saat ini hanya terbatas pada brosus saja.

Adanya beberapa kelemahan tersebut menjadi sebab munculnya permasalahan dalam pengembangan wisata Pantai pengubaian resort, sehingga untuk mengoptimalkan potensi yang diperlukan suatu strtegi lain dalam upaya mengembangkan objek wisata pantai Pengubaian resort dimana strategi ini di ambil melalui persepsi pengunjung dan masyarakat local. Strategi ini di harapkan menerapkan strategi yang efektif guna memanfaatkan kekuatan internal yang dimiliki dan mempertimbangkan pengaruh eksternal nya.

Peluang untuk mengembangkan objek wisata Pantai di Kabupaten Kaur, selain yang tekenal Pantai Linau atau Pantai Way Hawang. Salah satunya adalah Pengubaian resort di Desa Pengubaian Kab. Kaur merupakan peluang usaha wisata alam di kawasan pesisir pantai Kabupaten Kaur.

DAFTAR PUSTAKA

Aryunda, H., 2011. Dampak Ekonomi Pengembangan Kawasan Ekowisata Kepulauan Seribu. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 22 No. 1, April 2011.

Bappeda Kabupaten Kaur, 2012. Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Kaur. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kaur.

Bappeda Provinsi Bengkulu, 2016. Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah (RPJMD) Provinsi Bengkulu 2016-2021. Bappeda Provinsi Bengkulu.

Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, 2017. Kegiatan Review Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Provinsi Bengkulu Dan Draft Perda Rippda Provinsi Bengkulu. Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Bengkulu. Laporan Akhir. Dinas Pariwisata provinsi Bengkulu.

Fandeli,C,. Dan Mukhlison. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Gunardi, G., 2010. Identifikasi Potensi Kawasan Wisata Kali Pasir, Kota Tangerang. Jurnal Planesatm Vo. 1, No. 1, Mei 2010; Hidayat, M., 2011. Strategi Perencanaan Dan Pengembangan Objek Wisata (Studi Kasus Pantai Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat). Tourism and Hospitality Essentials (THE) Journal, Vol. I, No. 1, 2011,

Saat, A.M. Auliya, 2010. Strategi Pengembangan Prasarana Dan Sarana Obyek Wisata Bahari Pulau Sembilan Di Kabupaten Sinjai. Skripsi. Fakultas Sains Dan Teknologi Uin Alauddin Makassar. Suminar, P., Zamdial Ta’alidin dan Dwi Oktavallyan, 2017. Pemetaan dan Klasifikasi Daya Tarik Wisata Se-Provinsi Bengkulu. Laporan Akhir Kegiatan. Dinas pariwisata provinsi Bengkulu. 253 hal. ( * )

Penulis adalah Marsuli, merupakan Mahasiswa Universitas Bengkulu, Staf Dinas DKP Kabupaten Kaur




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.