Menyemai Bunga Dipinggiran Kota Sumatra




Berita24.id  : Mesuji — Sore itu langit Mesuji masih terlihat terang, bias cahaya matahari berwarna jingga mengintip dari celah gumpalan awan menembus kebumi, seakan langit terang enggan berganti malam.

Aku (penulis.red) bersama tiga orang teman media yang bertugas di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung dari Surat Kabar Harian Radar Tuba Misdi, Hanizal dan rekan kami Nara Sukarna selaku awak media online Genta Merah akan melakukan perjalanan menelusuri pinggiran Kota Provinsi Sumatra Selatan dengan tujuan Lampung – Palembang tepat pukul 17.00 WIB, Minggu 7 Juli 2019.

Suara mesin kenderaan sudah menyala, siap melaju meniti ratusan kilo meter aspal hitam yang akan dilalui dari Kabupaten Mesuji menuju Palembang menjajaki badan Jalan Lintas Timur (jalintim) Jalur Pantura.

Setelah menempuh waktu sekitar 4 setengah jam menggunakan mobil mini bus, kami menyempatkan diri berkunjung dikediaman saudara Ata Idham Sareif Pimpinan Redaksi krsumsel.com yang juga sebagai Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Ogan Komering Ilir pada pukul 22.00 WIB.

Kedatangan kami disambut baik oleh Ata tepat dihalaman rumahnya diwilayah Kota Kayu Agung, Ia pun mempersilakah kan kami masuk dan duduk diruang tamu utama.

Tidak membutuhkan waktu lama, kami langsung disuguhkan secangkir kopi, roti, bersama dengan makanan khas Palembang pempek dicampur cuka yang tentu memiliki rasa khas kuliner Sumatra Selatan.

Dalam pertemuan itu, ketiga teman ku terlihat asik bernostalgia berbincang dengan canda dan tawa, sambil menyeruput kopi hangat dan sesekali melempar pertanyaan terkait kemitraan antara kedua Kabupaten Mesuji – Lampung dan Kabupaten OKI – SumSel yang telah terjalin beberapa waktu lalu dalam rangka kunjungan kerja.

Waktupun berlalu, seolah tidak ingin membiarkan kami berlama-lama disana. Tepat pukul 23.35 malam, kami kembali bergegas menuju Kota Palembang.

Ditengah perjalanan, suara angin dari balik kaca memecah keheningan didalam kenderaan kami tumpangi. Alunan musik pun mulai menderu bersama aroma air tawar yang bersumber dari sungai dan rawa disisi jalan raya.

Setelah satu setengah jam driver menekan gas kenderaan, kami kembali sampai disebuah jembatan besar nan megah dihiasi beragam warna lampu menyala dengan tulisan AMPERA.

Kami kembali terhenti menikmati suasana panorama kota sambil berphoto untuk mengabadikan gambar keberadaan kami di Bumi Sriwijaya.

BERTEMU SAHABAT LAMA

Tiba-tiba saya teringat dengan seorang teman yang sudah lama tidak bersua. Aku coba menghubunginya, dan dayung pun bersambut.

Dia, Arwin Antoni sahabat lama yang telah puluhan tahun berpisah mengundang kami untuk datang dikediamannya di Jl. Talang Keramat Lorong Bidan, Griya BSA Permai blok.D No.11 Kelurahan Kenten – Palembang. Setiba disana, lagi-lagi kami mendapat suguhan kopi dan pempek berkuah cuka.

Kami sedikit heran, kenapa siang atau malam kami selalu mendapat hidangan yang menjadi ciri khas kuliner Kota Palembang tersebut. Sedikit rasa geli karena belum terbiasa, kami pun mencoba memakannya.

Wuah benar saja, walau disantap di pagi hari, rasa gilingan daging ikan bercampur tepung dan siraman cuka itu tetap nikmat terasa di lidah yang membangkitkan selera.

Mantap !!! luar biasa kawan, walau puluhan tahun tidak bertemu tapi rasa kopi dan cuka menjadi tali pengikat persahabatan kita.

KARENA KUAH CUKO MENDAPAT OMZET PULUHAN JUTA PERHARI

Disisi lain, Nara (driver) minibus berinisiatif untuk menemui kerabatnya yang juga sudah berpisah sejak belasan tahun lalu. Komunikasi terjalin dengan baik hingga mengantarkan kami ke titik lokasi Gg. Anggada Kota Palembang.

Kami sejenak bersantai duduk diteras bagian depan yang sudah dilengkapi kursi meja hidangan sebagai tempat pelanggan memesan makanan dan minuman. Ternyata Syafrudin(58) namanya, warga Kecamatan Kalidoni kini sudah menjadi seorang pengusaha sukses dan telah merangkul belasan pemuda pemudi setempat untuk di jadikan karyawan bekerja dirumahnya membuka aneka kuliner siap saji.

Udin di dampingi sang istri Nia Kaniati (53) menemani kami memulai cerita kehidupan barunya sejak awal hijrah dari kampung halaman di Dusun Bandar Harapan, Kampung Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah ke Sumatra Selatan pada tahun 1990 lalu.

Selama perjalanan karirnya, Syarifudin selalu berinovasi mencari nafkah dengan beragam barang dagangan, mulai dari kacang telur sampai home industri roti, dengan hasil penjualan yang bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Namun, pada awal tahun 2017 lalu, putri sulung Udin memberi saran untuk berjualan Sablak kemasan makanan ringan asal Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Awalnya lanjut dia, mereka hanya mendapat hasil penjualan sebesar 50 ribu rupiah dalam sehari. Tapi lama kelamaan, ia mencoba berinovasi mencampurkan adonan menu seblak dengan kuah cuka dan sambal, yang diharapkan dapat menggugah pelanggan karena rasa menyesuaikan selera lidah pribumi.

Alhasil, seiring waktu kuliner ‘Seblak Kania Kalidoni’ yang diramu dengan kuah cuko (cuka) kini sudah mulai banyak dikenal orang dan telah memiliki 3 anak cabang di tiga tempat yang berbeda.

“Alhamdulilah sudah hampir dua tahun berjalan, sekarang Seblak Kania sudah banyak diketahui orang dengan omzet mencapai 300 sampai 500 nota perhari yang rata-rata dalam satu nota nominalnya 25 – 50 ribu rupiah. Sementara untuk tetap berkembang, tidak ada kiat khusus diterapkan, hanya melakukan pemasaran melalui jaringan internet dan instagram, juga aplikasi Grab-Food, Go-Food dengan harga yang cukup terjangkau bagi semua kalangan,” bebernya.

Selain itu tambah Kania, “Kita selalu berpegang pada kualitas rasa, supaya Seblak Kania Kalidoni berkuah cuko dapat terus dikenal pelanggan. Baik disini maupun di tiga anak cabang, itu akan tetap menjadi prioritas,” tegasnya.

Sementara, Hanizal wartawan Radar Tuba yang ikut dalam perjalanan pulang pergi (PP) Mesuji – Palembang mengatakan, “Cita rasa yang dihasilkan dari Seblak Kania memang cukup menggugah selera, selain pedas rasa kuah cuko bukan sekadar kuliner biasa, perpaduannya dengan pempek merupakan simbol akulturasi budaya antara Melayu dan Tionghoa yang menjadi makanan khas Palembang,” sambut Izal.

Terimakasih kawan, jika masih ada jalinan persaudaraan. Terimakasih Sumatra Selatan, terimakasih Kota Palembang atas pengalaman dan panorama yang disajikan dalam semalam.

(friendship never die).




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.