Opini : Miskonsepsi Nyangkruk di Era Milenial




Berita24.id : Surabaya — Nyangkruk merupakan sebuah budaya yang bisa dibilang melekat pada bangsa Indonesia. Pada awalnya Nyangkruk merupakan sarana bertegur sapa, bertanya kabar dan bertukar cerita ketika bertemu.

Nyangkruk bisa terjadi di mana saja, baik itu di bawah pohon maupun pos ronda. Namun orang-orang lebih sering nyangkruk di sebuah warung kopi. Orang datang ke warung kopi untuk bertemu satu sama lain, kemudian terjadilah sebuah interaksi sosial berupa pembicaraan ringan.

Pembicaraan pun beragam, mulai dari hasil pertandingan sepak bola semalam, curhatan tentang kekasih, atau berita perselingkuhan yang baru saja terjadi. Tidak jarang pula pembicaraan tersebut berubah menjadi perdebatan, meskipun perdebatan yang dibahas adalah hal yang remeh temeh.

Tentu pembahasan akan berbeda ketika mahasiswa yang sedang nyangkruk. Ketika mahasiswa nyangkruk pembahasan akan terasa lebih bernilai dan berbobot. Karena topik-topik yang dibicarakan mahasiswa sering kali membahas tentang sosial, ekonomi, kebijakan politik, dan lain sebagainya.

Warung kopi telah menjadi media anak bangsa. Tempat dimana satu individu dengan indivu lain bertemu yang kemudian nyangkruk dan berinteraksi sesama mereka.

Belakangan ini, perkembangan teknologi telah memasuki seluruh sendi kehidupan masyarakat. Mulai dari hiburan, pendidikan, hingga perekonomian. Warung kopi pun tak luput dari perkembangan zaman. Hampir dari setiap warung kopi telah menyajikan Wi-Fi gratis dalam menu sajiannya.

Seiring berjalannya waktu, budaya ngobrol ketika nyangkruk mulai beralih. Orang-orang lebih senang memainkan gawai mereka ketimbang ngobrol satu sama lain. Mereka lebih suka membuka sosial media dan bermain game daripada berbincang dengan orang yang duduk di sebelahnya.

Topik pembicaraan yang dibahas lebih sering hanya berkaitan dengan game yang dimainkan. Padahal ketika nyangkruk bisa terjadi diskusi-diskusi panjang yang tentunya dapat menambah wawasan baru.

Dalam pergeseran budaya nyangkruk masyarakat perlu menyadari, bahwa terkadang gawai yang kita pegang dapat melenakan kita. Sebab sebagaimana yang telah disampaikan oleh Jean Baudrillard bahwa segala sesuatu yang menarik minat manusia ditayangkan oleh media secara ideal.

Sehingga batas antara simulasi dan kenyataan menjadi tercampur aduk dan susah dibedakan. Teknologi telah menyamarkan jarak. Masyarakat tidak sadar akan pengaruh simulasi dan tanda. Hal ini membuat mereka ingin mencoba hal baru yang ditawarkan oleh situasi simulasi.

Banyak pengguna gawai yang telah merasakan asiknya keadaan simulasi yang tentunya tidak dapat kita lakukan di dunia nyata. Akibatnya mereka lupa akan dunia sekitar mereka. Mereka lupa bahwa ia datang ke warung kopi untuk nyangkruk, untuk bertemu dengan kawan, menanyai kabar mereka, dan saling bertukar cerita.

Salah satu hal yang perlu disoroti dalam pergeseran budaya nyangkruk ini sebagian besar justru karena pemuda-pemudi bangsa. Tentu mahasiswa termasuk di dalamnya. Ironis memang, ketika mahasiswa yang seharusnya menjadi agent of change malah menjadi agent of game.

Dalam sejarah bangsa Indonesia, erat kaitannya gejolak dinamika bangsa yang terjadi dengan para mahasiswa. Sebab dalam jiwa mahasiswa masih tersimpan jiwa idealisme yang tinggi. Sehingga sering kali mahasiswa melakukan aksi meneriakkan tuntutan-tuntutan apa yang sekiranya ia anggap ideal.

Tan Malaka, salah seorang bapak pendiri Republik Indonesia mengatakan “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”. Dalam hal ini, Mahasiswa seharusnya menjadi penggerak perubahan bukan jangan hanya asik dengan gawai yang digenggamnya.

Teknologi memang telah berkembang pesat, dan dalam segala sesuatu pasti terdapat baik buruknya. Perlu adanya pemanfaatan teknologi ke arah yang lebih positif. Bukan berarti game adalah hal yang negatif, sebab ketika bermain game terdapat kemampuan bisa diasah. Tetapi jangan sampai ketika menggunakan handphone, kita lupa akan lingkungan sekitar kita. Sehingga kita lupa akan tanggung jawab moral kita sebagai mahasiswa.

Dalam pemanfaatan teknologi yang lebih baik, kita sebenarnya dapat mengakses berita dengan lebih mudah dan cepat. Berita-berita inilah yang kemudian seharusnya digunakan sebagai bahan obrolan para Mahasiswa ketika nyangkruk. Selain itu dengan menggunakan handphone kita juga dapat mengakses buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah.

Sehingga kita dapat saling bertukar informasi dimana pun dan kapan pun. Seharusnya, ketika kita menggunakan teknologi, pembahasan tidak akan habis. Dialektika berpikir pun akan mengalir. Wawasan akan terbuka semakin lebar dan ketika menemui masalah kita dapat memanfaatkan hasil-hasil diskusi selama nyangkruk. Kedepannya, kita mampu menjadi seorang Problem Solver ketika bermasyarakat.

Perlu adanya sebuah gerakkan yang dilakukan secara bersama ketika kita ingin merubah sebuah budaya. Baik itu dari kalangan mahasiswa ataupun yang lain. Memang tidaklah mudah dalam melawan sebuah arus yang sangat deras.

Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran bersama para mahasiswa, bahwa pemuda Bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai jumud dalam berpikir. Semoga para mahasiswa tetap menjadi Iron Stock bangsa, bukan malah Iron that follow the stream.

Oleh : M. T. Shabri (Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya)




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.